Ketika Kursi Elite Lebih Ramai Diperebutkan di KONI Agam, Atlet Justru Menunggu Tepuk Tangan

Bagikan Berita

Kabupaten Agam, Parttimenews.com – Polemik yang terus bergulir di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memunculkan satu pertanyaan sederhana, tetapi cukup menggelitik.

 

Sebenarnya siapa yang sedang diperjuangkan. Atlet, Prestasi Olahraga, atau Kursi Kepengurusan.

 

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika sejumlah Pengurus Cabang (Pengcab) ikut terseret dalam pusaran polemik elite organisasi.

 

Jika persoalannya benar-benar murni demi kepentingan atlet dan menjaga marwah Kabupaten Agam menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), semestinya energi organisasi saat ini lebih banyak tersedot untuk mempersiapkan atlet, bukan ikut larut dalam tarik-menarik kepentingan di level elite.

 

Ironinya, ketika para atlet dituntut berlari mengejar prestasi, sebagian elite olahraga justru tampak sibuk berlari mengejar posisi.

 

Atlet mengejar medali, pengurus mengejar mandat. Begitulah kira-kira satire yang berkembang di tengah masyarakat ketika polemik organisasi tak kunjung selesai sementara agenda Porprov Sumbar semakin dekat.

 

Padahal, Pemerintah Kabupaten Agam telah mengumumkan dukungan anggaran sebesar Rp3,2 miliar untuk kepentingan para atlet. Angka tersebut bukan sekadar deretan angka di atas kertas.

 

Di baliknya, terdapat harapan agar atlet mendapatkan dukungan yang layak untuk menjalani persiapan, pembinaan, kebutuhan pertandingan dan perjuangan membawa nama daerah.

 

Lalu pertanyaannya, Mengapa perhatian terhadap dana dan persiapan atlet tidak menjadi pusat kegaduhan yang sama besarnya dengan kegaduhan soal kepengurusan.

 

Kalau benar seluruh persoalan ini dilakukan demi atlet, mestinya pengumuman dana Rp3,2 miliar tersebut menjadi momentum untuk menyatukan barisan.

 

Pengcab seharusnya bertanya. Bagaimana dana itu memastikan atlet benar-benar siap. Bagaimana program latihan berjalan. Bagaimana kebutuhan setiap cabang olahraga dipenuhi.

 

Kemudian, Bagaimana target medali disusun. Dan bagaimana memastikan tidak ada satu pun atlet yang merasa ditinggalkan ketika bertanding membawa nama Agam.

 

Sebab, dalam logika sederhana olahraga, yang naik ke podium adalah atlet, bukan SK kepengurusan.

 

Medali emas tidak pernah bertanya siapa yang paling lama duduk di kursi organisasi. Atlet juga tidak akan memperoleh tambahan kecepatan lari hanya karena para pengurus berhasil memenangkan sebuah pertarungan politik internal.

 

Justru di sinilah peran Pengcab menjadi penting.

 

Jika Pengcab memiliki kepedulian terhadap masa depan olahraga Agam, suara mereka semestinya tidak hanya terdengar ketika membicarakan siapa yang menjadi ketua atau siapa yang mendapatkan legitimasi. Suara yang sama kerasnya seharusnya muncul ketika membicarakan kebutuhan atlet.

 

Jangan sampai forum olahraga berubah menjadi ruang tunggu perebutan jabatan, sementara lapangan latihan justru sepi dari perhatian.

 

Polemik organisasi tentu merupakan persoalan yang sah untuk diselesaikan. Tetapi ketika agenda Porprov sudah berada di depan mata, publik berhak mempertanyakan skala prioritas.

 

Apakah sekarang waktunya memperpanjang konflik elite. Atau justru waktunya menutup sementara buku pertengkaran, membuka buku program latihan, lalu menghitung berapa medali yang realistis dibawa pulang.

 

Sebab, masyarakat tidak akan mengingat berapa banyak rapat yang digelar untuk memperebutkan kursi. Masyarakat akan lebih mudah mengingat berapa medali yang berhasil dipersembahkan atlet Agam.

 

Di sinilah ironi terbesar muncul. Jika seluruh pihak mengaku sedang memperjuangkan marwah Agam, maka marwah itu sesungguhnya bukan berada di balik meja rapat.

 

Marwah itu akan dipertaruhkan di arena pertandingan, ketika atlet Agam berdiri menghadapi lawannya dan membawa nama daerah di dada. Maka, para Pengcab semestinya tidak sekadar menjadi penonton dalam drama elite organisasi.

 

Kalau memang benar demi atlet, buktikan dengan keberpihakan kepada atlet.

 

Jika anggaran Rp3,2 miliar telah disiapkan pemerintah daerah, kawal penggunaannya secara terbuka, pastikan tepat sasaran, dorong pembinaan berjalan maksimal dan pastikan atlet memperoleh hak serta fasilitas yang memang menjadi kebutuhannya.

 

Jangan sampai publik akhirnya membuat kesimpulan satir. Ketika dana untuk atlet sudah turun, yang sibuk justru orang-orang yang tidak ikut bertanding.

 

Dan kalau nanti Porprov Sumbar tiba, semoga yang menjadi berita utama bukan lagi soal siapa duduk di kursi KONI, melainkan siapa atlet Agam yang berdiri paling tinggi di podium.

 

Karena pada akhirnya, kursi bisa berganti, SK bisa berubah, kepengurusan bisa datang dan pergi. Tetapi prestasi atletlah yang akan tercatat dalam sejarah olahraga Kabupaten Agam.

 

Maka pertanyaan untuk seluruh insan olahraga Agam sebenarnya sederhana. Jika benar atlet adalah alasan utama semua perjuangan ini, mengapa perhatian kita masih lebih banyak tertuju pada kursi daripada podium?

(Ade.A)


Bagikan Berita

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *