PUNCAK, PAPUA TENGAH. Parttimenews.com — Masyarakat di Distrik Lambewi dan Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, menghadapi kondisi sulit akibat cuaca ekstrem dan kekeringan yang berlangsung berkepanjangan. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama sektor pertanian yang menjadi salah satu sumber utama pemenuhan kebutuhan pangan.
Cuaca ekstrem yang terjadi sejak sekitar Juni 2026 menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami gagal panen. Kondisi tersebut membuat persediaan pangan masyarakat semakin menipis dan meningkatkan kebutuhan terhadap bantuan pangan dari pemerintah.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Puncak, sebanyak 224 lahan pertanian di tujuh kampung di Distrik Agandugume mengalami gagal panen. Sementara itu, sekitar 184 lahan pertanian di Distrik Lambewi juga terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya dampak cuaca ekstrem terhadap ketahanan pangan masyarakat.
Selain gagal panen, masyarakat juga menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu, termasuk hujan es dan embun salju yang dapat merusak tanaman pertanian. Suhu udara yang sangat rendah di wilayah pegunungan semakin memperberat kehidupan masyarakat.
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian. Ketersediaan bahan makanan dan kebutuhan dasar masyarakat juga menjadi persoalan. Ketika hasil pertanian gagal dipanen, masyarakat kehilangan salah satu sumber utama makanan sekaligus pendapatan mereka.
Pemerintah Kabupaten Puncak telah melakukan langkah penanganan dengan menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama kondisi krisis berlangsung.
Namun, penanganan tidak cukup hanya melalui bantuan pangan sementara. Pemerintah perlu memastikan adanya program pemulihan pertanian, penyediaan bibit, dukungan bagi masyarakat yang kehilangan hasil panen, pelayanan kesehatan, serta ketersediaan air dan kebutuhan dasar lainnya.
Kondisi geografis wilayah pegunungan juga menjadi tantangan dalam pendistribusian bantuan. Jarak antarkampung dan akses transportasi yang terbatas membuat proses penyaluran bantuan membutuhkan perencanaan dan koordinasi yang baik.
Kekeringan dan gagal panen yang terjadi di Lambewi dan Agandugume harus menjadi perhatian serius karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Jika kondisi tersebut berlangsung lebih lama, ancaman terhadap ketahanan pangan masyarakat dapat semakin besar.
Karena itu, pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi dan pemerintah pusat perlu memperkuat koordinasi dalam penanganan bencana. Bantuan darurat harus berjalan bersamaan dengan langkah pemulihan agar masyarakat dapat kembali memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Kondisi di Distrik Lambewi dan Agandugume menunjukkan bahwa kekeringan bukan hanya persoalan perubahan cuaca, tetapi telah berdampak langsung terhadap pangan, pertanian, kesehatan, dan kehidupan masyarakat. Penanganan yang cepat, tepat, dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat terdampak.
Agus



